Showing posts with label Persiapan Melahirkan. Show all posts
Showing posts with label Persiapan Melahirkan. Show all posts

Tahap yang Dilewati oleh Seorang Ibu Saat Melahirkan

Penasaran apa saja tahap yang dilewati oleh seorang ibu kala melahirkan? Ternyata ada tiga tahap yang harus ia lewati agar si bayi bisa terlahir ke dunia. Apa saja tahap yang umumnya dilewati itu?

Tahap 1: Kelahiran awal (Fase 1/Tahap 1)
Yang terjadi: Tahap 1 adalah bagian yang cukup besar dalam proses kehamilan dan kelahiran. Tahap pertama ini adalah ketika segalanya terjadi, kecuali kelahiran si bayi. Di awal dari masa ini, si ibu akan mengalami pembukaan hingga 3 cm. Akan terasa kontraksi selama 30-45 detik dengan jarak antarkontraksi selama 5-20 menit. Kontraksinya terasa cukup ringan dan mirip keram saat menstruasi. Akan terasa sedikit sakit di bagian punggung dan terjadi diare ringan. Fase proses kelahiran ini bisa berlangsung selama 8-9 jam jika si ibu tidak diinduksi. Beberapa wanita bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam proses kelahiran hingga di akhir fase pertama ini.

Tahap 1: Kelahiran aktif (Fase 2/Tahap 1)
Yang terjadi: Pada tahap ini, si ibu akan mengalami pembukaan sekitar 4-7 cm selama masa kelahiran aktif. Kontraksi akan memanjang selama 45-60 detik dan berjarak antarkontraksi selama 2-5 menit. Kontraksi Anda akan terjadi cukup kuat, membran pun mulai rusak. Kemungkinan terbesar, si ibu yang melahirkan akan mengalami sakit pada punggung dan merasakan peningkatan konsentrasi saat tubuh dan mental mulai merasakan akan mengeluarkan si bayi. Fase proses kelahiran ini bisa berlangsung selama 3-4 jam.

Tahap 1: Fase Transisi (Fase 3/Tahap 1)
Ini merupakan tahap paling menantang dalam proses melahirkan. Si ibu akan mengalami pembukaan antara 8-10 cm dan kontraksi akan terjadi selama 60-120 detik. Jarak antarkontraksinya pun memendek hingga 30-90 detik. Kontraksinya pun akan terasa lebih kencang. Si ibu biasanya akan merasa ingin mulai mendorong, tetapi dokter atau bidan akan menyuruh Anda menunggu hingga saat yang tepat. Beberapa wanita akan mengalami pusing dan muntah selama fase transisi ini. Akan terasa lelah yang teramat sangat, mengantuk, dan pandangan kabur di antara kontraksi. Mood yang dirasa pun beragam, mulai dari terasa panas di beberapa titik, dingin di beberapa bagian, bahkan gemetaran. Jika si ibu tidak diberi suntik epidural, Anda mungkin akan mengalami rasa sakit di punggung bawah yang cukup menyakitkan, juga tekanan yang besar di bagian rektum. Bagian ini terjadi selama 10-60 menit.

Tahap 2: Kelahiran Bayi
Kontraksi bayi akan memendek dan akan ada jeda yang cukup antarkontraksi untuk si ibu beristirahat. Si ibu mungkin akan mengalami tambahan tenaga untuk mulai lagi. Keinginan untuk mendorong bisa jadi tak terkontrol pada saat ini. Jika si ibu memilih untuk mendapatkan suntikan epidural, mungkin tidak akan merasakan keinginan untuk mendorong. Dokter yang mengamati kontraksi di monitor akan memberitahu kapan waktu terbaik untuk mendorong. Kontraksi pada masa ini berlangsung selama 50-90 detik dan datang setiap 2-5 menit. Si ibu akan merasakan sakit yang ekstrem pada bagian punggung dan tekanan di bagian rektum. Untuk yang menggunakan obat ringan, seperti demerol, akan ada rasa seperti sedikit tusukan di bagian vagina ketika kepala si bayi mulai terlihat. Masa ini berlangsung selama 20 menit hingga 2 jam.

Tahap 3: Pengeluaran plasenta
Anda akan merasakan sedikit kontraksi saat pengeluaran plasenta ketika ia melepaskan diri dari rahim dan terdorong keluar. Proses ini berlangsung selama 5-20 menit.

(kompas.com)

Perempuan Akan Lebih Mudah Melahirkan Jika Haid Pertamanya Telat

Semakin membaiknya gizi yang diperoleh anak-anak saat ini, membuat mereka mengalami haid pertama lebih cepat. Kalau dahulu anak perempuan mendapatkan haid pertamanya pada usia 12 atau 13 tahun, anak-anak sekarang sudah mengalaminya pada usia 9 atau 10 tahun. Kemajuan ini tidak serta-merta memberikan pengaruh positif bagi sang anak. Sebab meskipun tubuh anak menjadi matang secara fisik, tetapi secara emosional ia masih belum dewasa. Ketika pergaulan bebas atau paksaan menikah di usia dini terjadi pada anak, mampukah ia menerima tanggung jawab sebagai ibu?

Pengaruh yang positif justru akan dialami oleh anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertamanya pada usia yang lebih tua, karena kelak ia akan mengalami proses persalinan yang lebih mudah pada kehamilan pertamanya. Demikian hasil penelitian terbaru dari Cambridge University di Inggris.

Studi, yang melibatkan lebih dari 3.700 ibu baru ini, mendapati bahwa semakin tua usia perempuan ketika mendapatkan haid pertamanya, semakin jarang ia akan membutuhkan operasi Caesar saat melahirkan, atau pun membutuhkan proses vacuum dalam kelahiran normal. Di antara wanita yang mengalami haid pertama pada usia 12 tahun atau lebih muda, 32%-nya membutuhkan operasi Caesar atau kelahiran normal yang dibantu instrumen lain. Sedangkan perempuan yang mendapatkan haid pertama pada usia 13, 14, 15 tahun, atau lebih, angkanya hanya mencapai 30, 29, dan 27%, demikian menurut jurnal BJOG yang memuat penelitian tersebut.

Namun, menurut Dr Gordon C.S. Smith, kepala bagian obstetri dan ginekologi Universitas Cambridge yang menulis studi tersebut, hasil studi ini tidak berarti memberikan pemahaman bahwa wanita yang memulai menstruasinya pada usia yang relatif awal harus mengkhawatirkan proses persalinannya kelak. Studi ini hanya memberikan kontribusi dalam menjelaskan mengapa wanita yang menunda kelahiran anak pada usia yang lebih matang memiliki risiko lebih tinggi dalam melahirkan.

Anda tentu telah mengetahui bahwa wanita yang melahirkan dalam usia yang lebih matang biasanya harus menjalani operasi Caesar atau mendapatkan bantuan peralatan vacuum saat melahirkan. Namun mengapa hal ini terjadi, belum pernah dijelaskan secara gamblang. Menurut Smith, penemuannya mendukung teori bahwa semakin lama wanita dibiarkan mengalami menstruasi yang fluktuatif, semakin besar kemungkinan mengalami fungsi rahim yang lemah.

Otot-otot rahim sangat dikontrol oleh hormon estrogen dan progesteron, demikian menurut Smith, dan stimulasi hormonal yang diperpanjang sangat mungkin menyebabkan sejumlah disfungsi dalam otot-otot tersebut. Hal inilah yang menyebabkan persalinan menjadi lebih sulit, dan meningkatkan jumlah operasi Caesar yang tak direncanakan atau pun persalinan dengan bantuan instrumen lain.

Penemuan ini juga meningkatkan pertanyaan mengenai apakah formulasi yang berbeda dari pil KB, yang mengandung hormon sintetis, dapat memberikan pengaruh berbeda terhadap fungsi rahim dalam jangka panjang. Namun studi ini ternyata tidak dapat memberikan jawaban. "Studi lebih lanjut," kata Smith, "dibutuhkan untuk mengklarifikasi apakah pendekatan hormonal yang berbeda terhadap kontrasepsi melindungi fungsi rahim dengan lebih baik."

(kompas.com)

Melahirkan Normal? SIAPA TAKUT!

Bagi seorang ibu, sesungguhnya melahirkan adalah peristiwa yang membahagiakan. Tetapi yang lebih sering digembar-gemborkan justru perasaan sakit yang luar biasa saat melahirkan secara normal (spontan). Walaupun rasa sakit itu lebih bersifat asumsi atau mitos, banyak calon ibu sudah ketakutan melahirkan secara normal.

Hypnobirthing membuat proses melahirkan normal secara alamiah menjadi nyaman dan tidak menakutkan. Sebenarnya cara persalinan itu sudah dikenalkan oleh pakar ginekologi Dr.Grantly Dic-Read, lewat buku Childbirth Without Fear yang ditulisnya pada 1944. Terapi hypnobirthing selanjutnya dikembangkan oleh Marie F.Mongan pendiri Hypnobirthing Institute.

Hypnobirthing dari kata hypnotic dan birthing, bukan berarti ibu hamil akan dihipnotis hingga tertidur atau tidak sadarkan dirinya saat melahirkan. Namun, hipnotis yang digunakan adalah metode penanaman sugesti positif saat otak telah berada dalam kondisi rileks.

Setelah mengikuti Hypnobirthing Course, Marie F Mongan by Peter Jackson di Perth, Australia tahun 2002, Lanny Kuswandi mencoba mengembangkan metode ini di Indonesia sejak tahun 2003.

Ia menjelaskan bahwa melahirkan adalah suatu proses alamiah dan memang menimbulkan rasa sakit. Namun, banyak wanita merasakan sakit tersebut lebih parah dari sebenarnya karena telah dipengaruhi oleh rasa panik dan stres. Apalagi semua wanita di dunia tumbuh dewasa "diracuni" dengan pengetahuan melahirkan normal itu sangat sakit.

Akibatnya muncul konsep fear-tension-pain (takut-tegang-sakit), di mana rasa takut menimbulkan ketegangan atau kepanikan yang menyebabkan otot-otot menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan sakit. Mirip dengan gejala spikosomatis (gangguan fisik yang timbul lebih disebabkan karena faktor psikologis).

Persalinan akan berjalan mudah dan nyaman jika si ibu rileks, tidak cemas, takut, dan panik. Karena jika panik produksi endorfin dalam tubuh yang berfungsi membuat tubuh merasa nyaman akan terhalang.

Memang, menjelang persalinan ada kontrasi atau ketegangan otot. Tentu rasanya sakit. Kontraksi ini berguna dan sangat membantu ibu mengejan dan membantu bayi untuk menemukan jalan keluar. Kalau si ibu tegang, jalan lahir malah menjadi kaku, membuat bayi juga sulit keluar. Bila si ibu tegang, kaku, dan mengalami kontrasi jelas semakin tidak nyaman. Karena sakit sekali.

"Yang terbaik adalah sambil mengejan mengikuti tekanan kepala bayi. Proses persalinan menjadi lebih cepat dan nyaman. Kalau si ibu banyak menjerit histeris atau teriak-teriak, justru membuang banyak energi," kata Lanny yang berpengalaman sebagai bidan ini.

Latihan rileksasi
Menurut Lanny yang sekarang membuka pelatihan hypnobirthing di klinik ProV, Cempaka Putih Jakarta Pusat, layanan persalinan yang diberikannya itu mudah dipelajari.

Satu contoh latihan sederhananya: dari otot kaki hingga kepala dibuat rileks, dengan cara mengendurkannya. Kemudian dilanjutkan dengan mengatur napas secara perlahan. Kedua mata diarahkan pada satu titik di langit-langit yang membuat mata si ibu terpejam, sambil mendengarkan musik yang mendukung suasana rileks.

Dalam kondisi rileks itulah masukkan program positif. Ucapkan dalam hati secara perlahan dan sadar," Saya dan janin saya akan tumbuh sehat. Dan saat persalinan saya menghadapinya dengan tenang." Latihan ini dilakukan terus menerus sampai menjelang kelahiran.

Hypnobirthing melibatkan relaksasi yang mendalam, pola pernapasan lambat dan cara melepaskan endorfin dari dalam tubuh yang memungkinkan calon ibu menikmati proses kelahiran yang aman, lembut, cepat, dan tanpa proses pembedahan.

Terapi ini mengajarkan para ibu untuk memahami dan melepaskan fear-tension-pain syndrome yang seringkali menjadi penyebab kesakitan luar biasa dan ketidaknyamanan selama proses kelahiran.

Seorang ibu yang sudah mahir hypnobirthing memiliki keahlian secara lisan dan visual mengenai kemampuan alaminya dalam mengikuti cara alami yang ideal untuk melahirkan.

Si ibu mempercayai insting tubuhnya, bahwa tubuhnya diciptakan untuk bekerja dalam irama yang selaras saat mengeluarkan bayi ke dunia. Karena si ibu pun dapat berkomunikasi batin dengan bayi untuk bekerja sama dalam proses kelahirannya ke dunia. "Ayo nak, kamu pintar, Ibu bantu kamu dorong keluar."

(kompas.com)

Tubuh Anda Pasti Bisa Mengatasi Rasa Sakit Saat Melahirkan

Tak ada waktu pasti yang bisa disebutkan jika menyangkut lamanya proses melahirkan. Setiap orang memiliki kondisi berbeda pada kehamilan hingga menjelang persalinannya. Namun, satu hal yang sama: rasa sakitnya. Teknik relaksasi pun terkadang tak mampu mengatasi rasa sakit persalinan. Tetapi, tenang saja, Anda pasti bisa mengatasi rasa sakit persalinan. Serahkan saja sepenuhnya, dengan kepercayaan tinggi, terhadap tubuh Anda.

Praktisi kebidanan Mary Murry, RN, CNM mengatakan bahwa pada sebagian ibu proses melahirkan bisa membutuhkan waktu lama dan melelahkan. Namun, bagi sebagian yang lain, bisa saja sangat cepat meski tetap menyakitkan.

Menurut Murry, sejumlah posisi dan teknik saat akan melahirkan bisa diterapkan untuk mengatasi rasa sakit. Percayakan sepenuhnya kepada kemampuan tubuh Anda beradaptasi.

Gerakan untuk mengatasi rasa sakit
Saat sudah mulai kontraksi, gerakan menggoyangkan badan, berdiri di antara waktu kontraksi, lalu memantulkan tubuh pada bola khusus untuk latihan ibu bersalin beberapa kali bisa mengatasi rasa sakit.

Berbaring di lantai, dan jika memungkinkan melakukan squat juga bisa membantu Anda mengatasi rasa sakit menjelang persalinan.

Musik bisa menenangkan atau justru mengganggu
Mendengarkan suara tertentu seperti lagu juga bisa menjadi pengalih perhatian dari rasa sakit menjelang persalinan. Menyiapkan kumpulan koleksi lagu kesukaan pada pemutar musik bisa membantu Anda. Entah itu musik berirama cepat, atau yang mengalun lembut dan menenangkan. Anda bisa saja mendengarkan semua jenis lagu tersebut, salah satunya saja, atau bahkan tidak sama sekali. Karena Anda takkan pernah tahu seperti apa mood yang muncul saat akan melahirkan.

"Saya sudah merencanakan sebelumnya, jika nanti melahirkan, saya akan mendengarkan musik sepanjang proses persalinan. Namun, pada akhirnya saya lebih suka keheningan karena kontraksi yang begitu hebat," Murry membeberkan pengalamannya.

Siapkan mantra
Akan sangat membantu jika Anda memiliki mantra positif saat persalinan. Ucapkan doa atau kata-kata tertentu yang Anda yakini bisa memberikan ketenangan sepanjang persalinan. Cara ini bisa membantu Anda mengatasi rasa sakit. Jika tak sanggup berkata-kata, kuasai pikiran Anda dengan mantra positif.

Jika semuanya serba salah
Pada akhirnya Anda-lah yang berkuasa. Kondisi menjelang persalinan bisa berubah menyenangkan atau menyulitkan. Jangan takut melakukan apa saja yang bisa mengurangi rasa sakit, asalkan masih aman. Hentikan upaya Anda mengurangi sakit jika merasa tak lagi aman atau tak nyaman. Jika kehabisan cara, tanyakan perawat atau bidan. Prinsipnya, percayalah sepenuhnya kepada diri Anda dan tubuh Anda, untuk menghadirkan si malaikat kecil hadir ke dunia, bayi Anda.

Lima Pilihan Posisi Melahirkan Selain Berbaring

Selama ini banyak ibu hamil yang beranggapan posisi melahirkan hanya berbaring (litotomi) atau setengah duduk. Padahal nenek moyang dengan segala kearifan lokalnya mempunyai kebiasaan melahirkan dengan cara jongkok atau berdiri. Semua posisi ada kelebihan dan kekurangannya. Anda yang sedang bersiap melahirkan bisa memilih salah satu di antaranya, dengan mengonsultasikannya terlebih dulu pada dokter yang akan membantu persalinan.

Berikut adalah lima pilihan posisi melahirkan (selain berbaring), disarikan dari buku 9 Bulan yang Penuh Keajaiban, karya Annia Kissanti:

1. Setengah duduk. Posisi setengah duduk juga posisi melahirkan yang umum diterapkan di berbagai rumah sakit atau klinik bersalin di Indonesia. Posisi ini mengharuskan ibu duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka ke arah samping.

Keuntungan: Posisi ini membuat ibu merasa nyaman. Sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh untuk bisa keluar lebih pendek. Suplai oksigen dari ibu ke janin berlangsung optimal.

Kekurangan: Posisi ini bisa menyebabkan keluhan pegal di punggung dan kelelahan, apalagi kalau proses persalinannya lama.

2. Lateral (miring). Posisi ini mengharuskan ibu berbaring miring ke kiri atau ke kanan. Salah satu kaki diangkat sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Biasa dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat. Normalnya posisi ubun-ubun bayi berada di depan jalan lahir, menjadi tidak normal bila posisi ubun-ubun berada di belakang atau samping. Miring ke kiri atau ke kanan tergantung posisi ubun-ubun bayi. Jika di kanan, ibu diminta miring ke kanan dengan harapan bayinya akan memutar. Posisi ini juga bisa digunakan bila persalinan berlangsung lama dan ibu sudah kelelahan dengan posisi lainnya.

Keuntungan: Peredaran darah balik ibu mengalir lancar. Pengiriman oksigen dalam darah ibu ke janin melalui plasenta tidak terganggu. Karena tidak terlalu menekan, proses pembukaan berlangsung perlahan-lahan sehingga persalinan relatif lebih nyaman.

Kekurangan: Posisi ini membuat dokter atau bidan sedikit kesulitan membantu proses persalinan. Kepala bayi lebih sulit dipegang atau diarahkan. Bila harus melakukan episiotomi pun posisinya lebih sulit.

3. Berdiri/Setengah jongkok. Dalam satu kesempatan, dr Judi J. Endjun, SpOG, ahli kebidanan dan kandungan bercerita, saat PTT di Timor-Timur (sekarang Timor Leste), ia dibuat tertegun dengan cara wanita sana melahirkan. Ia menyaksikan, sang suami yang istrinya akan melahirkan membakar kayu hingga menjadi bubuk abu, lalu abu itu ditabur di atas lantai rumah. Kemudian dua buah kain digantungkan di atas rumah, tepat di atas abu yang ditebar tadi. Si ibu berpegangan pada kain, dan tak perlu menunggu lama, si bayi langsung lahir dan "mendarat" di atas abu hangat yang steril. Sebuah kearifan lokal yang membuatnya geleng-geleng kepala. Tak hanya di Timor, beberapa suku di China pun ternyata mempunyai kebiasaan yang sama, yakni melahirkan dengan berdiri.

Keuntungan: Posisi ini selaras dengan gaya gravitasi bumi. Sehingga, kekuatan mengejan ibu jauh lebih kuat. Memang, pada posisi berdiri jalan lahir langsung lurus dengan tanah. Seolah-olah ibu menekan tanah dengan kekuatan seluruh tubuhnya. Sehingga dibutuhkan kesiapan semua pihak yang membantu persalinan, jangan sampai bayi "meluncur" terlalu cepat hingga cedera. Supaya hal ini tidak terjadi, biasanya sudah disiapkan bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan tubuh bayi.

Kekurangan: Dokter atau bidan sedikit kesulitan bila harus membantu persalinan melalui episiotomi atau memantau perkembangan pembukaan.

4. Jongkok. Beberapa suku di Indonesia Timur, mulai Lombok Timur hingga Papua, wanitanya mempunyai kebiasaan melahirkan dengan cara jongkok.

Keuntungan: Posisi ini menguntungkan karena pengaruh gravitasi tubuh, ibu tak harus bersusah-payah mengejan. Bayi akan keluar lewat jalan lahir dengan sendirinya.

Kekurangan: Bila tidak disiapkan dengan baik, posisi jongkok amat berpeluang membuat kepala bayi cedera, sebab bayi bisa "meluncur" dengan cepat. Supaya hal ini tidak terjadi, biasanya sudah disiapkan bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan tubuh bayi. Dokter atau bidan pun sedikit kesulitan bila harus membantu persalinan melalui episiotomi atau memantau perkembangan pembukaan.

5. Dalam air. Bisa jadi di Indoensia melahirkan dalam air termasuk hal baru, tetapi di Eropa Timur, terutama di Rusia, cara melahirkan seperti ini sudah sangat lazim. Sampai-sampai muncul anekdot, keunggulan atlet renang Eropa Timur antara lain terbentuk karena sejak lahir bayi-bayi di sana sudah "dipaksa" latihan berenang.

Ketika ibu hamil sudah masuk bukaan 5-6, dengan dibantu dokter atau perawat, ibu hamil dimasukkan ke kolam khusus yang dipastikan kebersihan dan sterilisasinya. Temperatur air harus sesuai dengan suhu tubuh ibu, tidak kurang atau lebih, untuk mencegah terjadinya temperature shock saat bayi meluncur ke air.

Keuntungan: Kelebihan utama melahirkan di air adalah ibu sangat rileks, karena adanya rileksasi semua otot tubuh, terutama otot-otot yang terkait dengan proses persalinan. Mengejan menjadi lebih mudah dan tidak merasakan sakit seperti proses persalinan lainnya. Jangan khawatir bayi akan "tenggelam" begitu lahir, sebab selama dalam kandungan pun sejatinya bayi hidup di dalam air ketuban ibu.

Kekurangan: Risiko air tertelan oleh bayi sangat besar, karena itu proses ini membutuhkan kesiapan semua pihak, baik peralatan yang digunakan maupun dokter kandungan, perawat, atau dokter anak yang langsung mengecek keadaan bayi begitu lahir. Bila prosesnya berlangsung terlalu lama, ibu bisa mengalami hipotermia atau suhu tubuh terlalu rendah.

(kompas.com)

Siapkan Dokter Anak Sebelum Anda Melahirkan!

Salah satu hal yang mungkin tidak Anda ketahui selama kehamilan (dan tidak ada orang yang mengingatkan Anda), adalah mencari dokter anak. Yup, tugas Anda saat dinyatakan hamil bukan sekadar mencari ginekolog, tetapi juga mencari dokter anak (pediatrician).

Mengapa harus repot mencari sekarang, bukankah nanti setelah melahirkan ada dokter anak (dokter jaga) yang akan membantu Anda?

Tak sedikit ibu baru yang panik saat melihat bayi yang baru lahir. Nah, siapa yang mampu menangani bayi merah Anda selain dokter anak yang telah Anda kenal dan percayai? Tentu ada perawat yang juga akan mengontrol Anda dan bayi Anda setiap sekian jam, namun akan lebih baik bila Anda memiliki "back-up" sendiri. Yaitu dokter anak yang sudah sepakat dengan Anda mengenai penanganan seperti apa yang harus dilakukan begitu bayi lahir.

"Itu anak Anda, jadi Anda berhak memutuskan apa yang terbaik untuk anak. Jangan lupa mengkomunikasikannya dengan suami, orangtua, dan mertua, supaya mereka tahu bahwa ini keputusan Anda," kata Najeela Shihab, salah satu pendiri Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, dalam talkshow "ASI: Modal Utama Kesuksesan Pengasuhan" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keputusan yang dimaksud umumnya berkaitan dengan bagaimana pihak rumah sakit menangani anak Anda. Misalnya, Anda berhak melarang perawat "menahan" bayi yang baru lahir, dan memilih untuk melakukan inisiasi menyusui dini. Bila dokter anak Anda pro-ASI, dan telah berdiskusi dengan Anda sebelumnya, tentu ia akan mendukung keputusan Anda ini.

Lalu kapan sebaiknya Anda mulai mencari dokter anak?

Dr. Andrea McCoy, Medical Director of Temple Pediatric Care di Temple University Children's Medical Center, Philadelphia, menyarankan untuk mulai mencari pada trimester kedua. Tepatnya setelah kehamilan Anda dipastikan lancar. Bulan-bulan terakhir akan berlalu lebih cepat, sehingga mungkin Anda tidak punya cukup waktu untuk mencari dokter anak terbaik.

Anda perlu mencari dokter anak yang kepribadiannya "nyambung" dengan Anda. Anda boleh saja menerima rekomendasi dari teman atau saudara, tapi tak ada salahnya Anda mencari dokter yang mampu memenuhi kebutuhan Anda sendiri. Pastikan Anda melakukan riset untuk dokter anak ini, dengan mencari tahu ketersediaannya (apakah jadwalnya terlalu padat atau tidak), reputasinya, kemampuannya mendengarkan Anda, bagaimana pandangannya, hingga bagaimana interaksinya dengan anak-anak.

Sebelum kelahiran, berkonsultasilah dengan dokter anak pilihan Anda. Tanyakan apapun yang ingin Anda ketahui, dari soal memandikan bayi, imunisasi, menyusui, dan tentunya masalah medis lainnya. Pastikan Anda merasa nyaman dengan dokter pilihan Anda. Bila tidak, mungkin Anda harus mencari dokter yang lain.

Hypno-Birthing: Cara Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit

Proses melahirkan alami bisa jadi suatu hal yang mengerikan bagi ibu hamil, terlebih ibu yang baru pertama kali hamil. Tapi kini proses melahirkan alami bisa dilakukan tanpa rasa sakit dengan hypno-birthing.

Hypno-birthing adalah upaya alami menanamkan niat atau swasugesti kepikiran bawah sadar untuk menghadapi persalinan dengan tenang dan sadar.

Hypno-birthing menggunakan teknik relaksasi yang dalam sehingga ibu hamil mampu memprogram ulang bahwa sesungguhnya melahirkan adalah pengalaman yang penuh dengan kebahagiaan, nyaman dan lancar.

"Prinsip hypno-birthing sama dengan hypnotherapy, yaitu dengan memperdaya energi jiwa bawah sadar dengan mengistirahat energi jiwa sadar," jelas Lanny Kuswandi, penulis dan pengembang Hypno-Birthing di Indonesia, dalam acara Seminar Interaktif Hypno-Birthing di Apartemen Casa Grande Residende, Jakarta, Sabtu (5/2/2011).

Menurut Lanny, hipnotis atau dalam hal ini hypno-birthing bukanlah hal yang magic, tetapi logis dan dapat dijelaskan secara ilmiah.

Pada saat melakukan hypno-birthing, lanjut Lanny, ibu hamil diajak untuk relaksasi, baik otot, napas dan pikiran, serta diberikan sugesti-sugesti positif tentang proses persalinan alami yang tidak sakit.

"Pikiran bawah sadar berperan 82 persen terhadap fungsi diri. Rekaman di pikiran bawah sadar inilah yang mempengaruhi sakit tidaknya proses melahirkan," jelas Lanny.

Lanny menjelaskan biasanya hypno-birthing harus didamping oleh trainer yang terlatih. Cara-cara melakukan relaksasi saat hypno-birthing, yaitu sebagai berikut:


  1. Ibu hamil di tempatkan pada ruangan dan suasana yang tenang
  2. Ditunjang dengan menggunakan musik untuk mempercepat dan menunjang relaksasi
  3. Ditambah dengan aromaterapi
  4. Dipandu dengan trainer untuk melakukan relaksasi otot, napas dan pikiran.
  5. Setelah si ibu terlihat tenang dan rileks, maka trainer bisa memberikan sugesti-sugesti atau niat positif tentang persalinan.

"Hypno-birthing bisa dilakukan sedini mungkin sejak awal kehamilan. Jadi ibu tidak hanya mempersiapkan nutrisi saja, tetapi juga mental dan spiritual," lanjut Lanny.

Pada trimester pertama, hypno-birthing memiliki manfaat sebagai berikut:


  1. Meningkatkan ketenangan diri yang bermanfaat untuk kesehatan sel-sel pada tubuh ibu dan janin.
  2. Mengurangi rasa mual, muntah, pusing dan lainnya.
  3. Mencegah depresi pasca persalinan

Sedangkan manfaat hypno-birthing pada tahap trimester selanjutnya adalah:

  1. Mengajarkan relaksasi untuk meminimalkan stres serta ketakutan, panik selama persalinan sehingga tidak menyebabkan trauma untuk ibu dan bayinya.
  2. Dapat menghilangkan dan meminimalkan keinginan untuk menggunakan obat-obatan penghilang rasa sakit saat persalinan
  3. Membantu untuk mengatasi pada pasien dengan hipertensi
  4. Membantu letak janin dengan teknik komunikasi
  5. Menghilangkan keletihan yang berlebihan setelah proses persalinan
  6. Mempercepat masa pemulihan pasca persalinan
  7. Mengurangi risiko terjadi komplikasi dalam persalinan

Hypno-birthing juga bermanfaat untuk janin, yaitu:

  1. Membantu menjaga suplai oksigen kepada bayi selama proses persalinan
  2. Meningkatkan ikatan batin ibu terhadap bayi dan suami
  3. Pada saat lahir biasanya bayi lebih tenang (tidak mudah rewel)
  4. Mencegah persalinan prematur

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More